HUTAN SEBAGAI SUMBER OBAT; MASA DEPAN PERHUTANAN SOSIAL


Laela Nur Anisah

( Kepala Seksi Data dan Informasi, Sub Direktorat Audit Lingkungan Hidup dan Data Informasi, Direktorat Pencegahan Dampak Lingkungan Usaha dan Kegiatan, Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Doktor dengan Desertasi Senyawa Alam Anti Diabetes )

Saat ini, sebanyak 90% kebutuhan obat nasional sudah dapat dipenuhi oleh industri farmasi di dalam negeri. Namun '+96%' bahan baku obat yang digunakan oleh industri farmasi untuk memproduksi obat masih impor, terutama dari negara Cina dan India. Ketergantungan ini sangat berisiko besar terhadap ketahanan obat nasional. Perlu diupayakan kemandirian Indonesia dalam produksi bahan baku obat untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat. Salah satu upaya untuk pengembangan bahan baku obat dalam negeri adalah melalui pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia termasuk hutan tropika Indonesia.

Hutan Indonesia dikenal sebagai mega biodiversity, sebanyak '± 3.000' jenis spesies tumbuhan penghasil bahan berkhasiat obat. Namun hanya '+1.000' jenis tumbuhan yang sudah dimanfaatkan untuk bahan baku obat tradisional dan belum dioptimalkan sepenuhnya untuk meningkatkan nilai ekonomi tumbuhan obat tersebut. Pemanfaatan bahan baku obat tradisional  '+80%' langsung dipanen dari hutan, sisanya dari hasil budidaya. Pengembangan budidaya tumbuhan obat dapat menjadi sumber penghasilan masyarakat sekitar hutan serta potensial untuk menghasilkan devisa negara.

Potensi pengembangan obat tradisional atau produk herbal sangat besar. Di samping adanya tantangan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku obat di industri farmasi dalam negeri akibat ketergantungan impor bahan baku yang masih sangat besar '(+96%)', permintaan pasar impor dunia terhadap produk obat dan kosmetika juga tumbuh pesat. Transaksi perdagangan obat tradisional di dunia terus meningkat seiring dengan perkembangan riset klinik yang menyatakan bahwa obat herbal berkhasiat dan aman dikonsumsi. WHO memprediksi bahwa permintaan tanaman obat dunia akan mencapai USD 5 triliun pada tahun 2050.

Bahan baku obat baik yang berasal dari tumbuhan obat hutan tropika maupun budidaya tanaman obat (kehutanan dan non kehutanan)  merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu  (HHBK) yang sangat potensial untuk dikembangkan baik dari segi kuantitas, kualitas, maupun kontinuitasnya. HHBK tumbuhan obat memiliki daya tarik bagi peningkatan perekonomian masyarakat karena bersifat padat karya dan dapat memunculkan industri kreatif rakyat terkait bahan baku obat tradisional/produk herbal. Pengembangan HHBK tumbuhan obat tersebut sangat berpeluang dikembangkan melalui kegiatan Perhutanan Sosial.

Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) sebagai unit pengelola pada tingkat tapak memegang peranan penting dalam upaya percepatan implementasi program Perhutanan Sosial tersebut. KPH harus mampu menjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan serta mengelola hutan bersama masyarakat melalui Perhutanan Sosial. Kerjasama pemanfaaatan hutan yang dapat dilakukan KPH antara lain melalui kemitraan kehutanan dan kerjasama usaha pemanfaatan HHBK. KPH dapat melakukan kerjasama pemanfaatan hutan dengan para investor baik BUMN, Koperasi, Masyarakat Setempat dll untuk melakukan pemanfaatan HHBK tersebut.

Tantangan utama ke depan dalam pengembangan HHBK tumbuhan obat adalah jaringan pemasaran dan standar produk terutama pada komoditas bahan baku obat industri farmasi untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri maupun yang akan diekspor. Untuk memastikan serapan pasar dari produk-produk masyarakat tersebut perlu upaya intensif pemerintah untuk membuka jaringan dengan produsen atau importir serta  industri obat tradisional dan industri farmasi sebagai pengolah bahan baku obat tersebut. Prospek budidaya tanaman obat beserta pangsa pasar yang cukup menjanjikan menjadi tantangan sekaligus peluang yang cukup besar bagi KPH sebagai pendamping masyarakat untuk pengembangan HHBK obat-obatan melalui program Perhutanan Sosial.



Gambar Banner