Data dan Informasi KPH



PROVINSI Sumatera Barat

UNIT X SUMBAR

Ekologi

No
Butir
Uraian
1 Jenis Tanah Secara umum sebagaimana tanah yang ada di Indonesia, tanah-tanah yang berada di wilayah kelola KPHP Mentawai (Unit XI) memiliki ciri-ciri sebagai berikut: • Struktur tanahnya baik dimana tanah tidak terlalu padat dan tidak terlalu lenggang. • Cukup mengandung air yang berguna untuk melarutkan unsur hara. Berdasarkan Peta Landsystem tahun 1989 kawasan KPHP Mentawai (Unit XI) didominasi atas jenis tanah sebagai berikut (Klasifikasi Dudal-Soepraptohardjo): Tabel 2.6. Tabel Luas Jenis Tanah di Wilayah KPHP Mentawai (Unit XI) Kawasan Jenis Tanah Pulau (Ha) Grand Total (Ha) Sipora Pagai Utara Pagai Selatan HL Kambisol 1,137.88 1,137.88 Latosol 661.62 151.39 813.01 Regosol 1,808.38 1,808.38 Aluvial 344.40 921.74 1,266.13 Kambisol 13,354.69 13,354.69 Latosol 27,212.80 43,493.66 70,706.46 HP Podsolik 3,251.85 336.67 3,588.51 Regosol 2,079.40 35,745.83 4,183.57 42,008.80 Grand Total 33,550.07 37,554.21 63,579.60 134,683.88 1. Podsolik Merah Kuning Tanah podsolik merah kuning merupakan jenis tanah yang memiliki persebaran terluas di Indonesia. Berasal dari bahan induk batuan kuarsa di zona iklim basah dengan curah hujan antara 2.500 – 3.000 mm/tahun. Sifatnya mudah basah dan mudah mengalami pencucian oleh air hujan, sehingga kesuburannya berkurang. Dengan pemupukan yang teratur, jenis tanah ini dapat dimanfaatkan untuk persawahan dan perkebunan. 2. Latosol Latosol adalah tanah yang terbentuk dari batuan beku, sedimen, dan metafomorf. Tanah latosol memiliki ciri-ciri yaitu, merupakan jenis tanah yang telah berkembang atau terjadi deferensiasi horison, solum dalam, tekstur lempung, warna coklat, merah hingga kuning, tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 3000 mm/tahun, ketinggian tempat berkisar antara 300-1000 meter di atas permukaan laut, mudah menyerap air, memiliki pH 6 – 7 (netral) hingga asam, memiliki zat fosfat yang mudah bersenyawa dengan unsur besi dan aluminium, kadar humusnya mudah menurun. Jenis tanah latosol ini dominan (53,10%) pada wilayah KPHP Mentawai (Unit XI) dimana jenis tanah ini tersebar pada semua wilayah kelola. 3. Alluvial Alluvial adalah tanah yang berasal dari endapan lumpur yang dibawa melalui sungai-sungai. Secara umum, sifat jenis tanah ini mudah digarap, dapat menyerap air, dan permeabel sehingga cocok untuk semua jenis tanaman pertanian. Ciri-ciri tanah alluvial yaitu, jenis tanah masih muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan induk aluvium, tekstur beraneka, dan kesuburan umumnya sedang hingga tinggi. Tanah ini cocok ditanami padi, palawija, tembakau, tebu, sayuran, kelapa dan buah-buahan. Jenis tanah ini yang paling sedikit dijumpai pada wilayah kelola KPHP Mentawai (Unit XI), yaitu hanya mencapai 0,94% dari luas kawasan kelola. 4. Kambisol Tanah Kambisol (menurut sistem FAO) merupakan tanah yang mempunyai horison B kambik dan horison A umbrik atau molik, serta tidak terdapat gejala hidromorfik. Nama kambisol berasal dari “kambik” yang berarti berubah atau horison bawah permukaan kambik dan “solum” yang berarti tanah. Ciri-ciri utama horison kambik adalah memiliki tekstur berupa pasir bergeluh halus atau pasir bergeluh sangat halus atau pasir sangat halus,mempunyai kandungan Bahan Organik rendah, dan tidak mempunyai struktur histik, mollik, dan umbrik. Jenis tanah ini juga tidak terlalu dominan di wilayah kelola KPHP Mentawai (Uni XI), hanya mencapai 10,76% dari wilayah kelola KPHP. 5. Regosol Jenis tanah ini bertekstur kasar (pasir, pasir berlempung), mempunyai horison A okrik, umbrik atau histik, ketebalan > 25 cm. Tanah regosol adalah tanah berbutir kasar dan berasal dari material gunung api. Tanah regosol berupa tanah aluvial yang baru diendapkan. Material jenis tanah ini berupa abu vulkan dan pasir vulkan. Tanah regosol merupakan hasil erupsi gunung berapi, bentuk wilayahnya berombak sampai bergunung, bersifat subur, tekstur tanah ini biasanya kasar, berbutir kasar, peka terhadap erosi, berwarna keabuan, kaya unsur hara seperti P dan K yang masih segar, kandungan N kurang, pH 6 - 7, cenderung gembur, umumnya tekstur makin halus makin produktif, kemampuan menyerap air tinggi, dan mudah tererosi. Pada areal kelola KPHP Mentawai (Unit XI) jenis tanah ini ditemukan mencapai 32,53 % di seluruh wilayah kelola, dimana tersebar pada Pulaua Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan
2 Jenis Kayu Potensi kayu di dalam wilayah kelola KPHP Mentawai (Unit XI) dihitung berdasarkan hasil inventarisasi biogeofisik yang dilakukan oleh Tim Dinas Kehutanan Provinsi pada tahun 2017, disamping itu juga digunakan data hasil Inventarisasi Hutan Berkala Menyeluruh (IHMB) IUPHHK-HA PT. Minas Pagai Lumber Tahun 2014. Dari data sekunder hasil IHMB PT. Minas Pagai Lumber ada diperoleh informasi bahwa : 1. Sediaan tegakan anakan tingkat Pancang pada areal berhutan “sangat baik” (tidak dihitung volumenya). 2. Sediaan tegakan tingkat Tiang rata-rata 192, 51 btg/Ha, sediaan tertinggi mencapai 800 btg/ha 3. Sediaan tegakan pohon kecil (diameter 20-30 cm) rata-rata 12,42 m3/ha (Kelompok Meranti dan Campuran), potensi tertinggi pada plot contoh yaitu jumlah pohon 225 btg/ha dengan volume 73,16 m3/ha 4. Sediaan tegakan pohon besar (diameter > 30 cm cm) rata-rata volume perha yaitu 63,41 m3 /ha, dimana potensi tertinggi diperoleh jumlah pohon 152 btg/ha dengan rata-rata volume 254,67 m3/ha. Dari hasil inventarisasi dengan sistem sampling yang dilakukan oleh Tim Dinas Kehutanan Prov. Sumatera Barat pada beberapa lokasi plot contoh dari Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan diperoleh data potensi tegakan kayu rata-rata per/ha pada kawasan Hutan Produksi (HP) adalah sebesar 141,03 M3/Ha, dengan jenis pohon dominan yaitu Meranti, Keruing, Medang dan jambu-jambu. Sementara untuk potensi kayu rata-rata /ha di Hutan Lindung (HL) mencapai 393.45 M3/Ha yang juga didominasi oleh jenis Keruing, Meranti, Terentang dan Medang.
3 Satwa Liar Fauna Hutan di Kabupaten Kepulauan Mentawai memiliki fauna yang tinggi dan sebagian diantaranya merupakan fauna endemis . Berdasarkan hasil penelitian LIPI pada beberapa tempat diketahui bahwa terdapat, 27 jenis mamalia salah satunya mamalia besar adalah rusa sambar (Cervus unicolor oceanus) disamping itu terdapat juga kelelawar, 5 jenis tupai, bajing hitam (Callosciurus melanogaster), 4 jenis primata endemis, paling sedikit 116 jenis burung (burung beo, burung elang, burung udang, burung murai batu dll) Jenis Primata yang telah ditetapkan sebagai primata langka yang dilindungi dapat dilihat pada tabel berikt : Tabel 2.17. Fauna Langka yang dilindungi di wilayah KPHP Mentawai Unit XI No. Jenis fauna langka Nama Latin Penyebaran 1. 2. 3. 4. 5. Bilou /Siamang kerdil Simakobu/Monyet ekor babi Joja/Lutung Mentawai Bokoi/Beruk Mentawai Ular sanca kembang Hylobates klosii Simias concolor Presbytis potenziani Macaca pagensis Calamaria klossi Tersebar seluruh wilayah Tersebar seluruh wilayah Tersebar seluruh wilayah Tersebar seluruh wilayah Calamaria klossi
4 Kelerengan Berdasarkan Peta Landsystem Tahun 1989 kondisi dan persentase kelerengan di wilayah KPHP Mentawai (Unit XI) adalah sebagai berikut: Tabel 2.4. Tabel Luas Tingkat Lereng Wilayah KPHP Mentawai (Unit XI) Kawasan Kelas Lereng Pulau Grand Total (Ha) P. Sipora (Ha) P. Pagai Utara (Ha) P. Pagai Selatan (Ha) HL 0 - 8 % 134.31 203.71 906.72 1,244.73 8 - 15 % 202.06 415.26 186.33 803.65 15 - 25 % 177.52 645.76 115.53 938.82 25 - 40 % 105.63 441.92 70.37 617.92 > 40 % 42.10 101.74 10.32 154.16 HP 0 - 8 % 11,320.33 10,519.46 32,348.98 54,188.77 8 - 15 % 10,906.67 12,387.85 17,291.45 40,585.96 15 - 25 % 7,919.06 9,221.82 9,309.83 26,450.71 25 - 40 % 2,570.92 3,096.17 2,983.93 8,651.02 > 40 % 171.47 520.53 356.14 1,048.14 Grand Total 33,550.07 37,554.21 63,579.60 134,683.88 Berdasarkan tabel diatas didapat bahwa topografi KPHP Mentawai (Unit XI) didominasi oleh areal bertopografi datar (0 - 8%) seluas ± 55.433,50 Ha atau mencapai 41,15% dari total wilayah KPHP Mentawai (Unit XI), diikuti oleh areal yang bertopografi landai (8 – 15 %) seluas ± 41.389,61 Ha atau 30,73% dari total wilayah KPHP Mentawai (Unit XI). Sangat sedikit areal yang bertopografi curam dan sangat curam yang hanya sebesar 7,77% dari luas total wilayah kelola. Areal bertopografi datar dan landai tersebar merata di wilayah kelola KPHP Mentawai (Unit XI) di Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan.
5 DAS 5). Wilayah Daerah Aliran Sungai Wilayah KPHP Mentawai (Unit XI) merupakan wilayah yang sebagian besar berupa dataran sehingga secara morfologi merupakan bagian hilir dari suatu wilayah daerah aliran sungai (DAS). Berdasarkan pembagian wilayah DAS, menurut data spasial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, KPHP Mentawai (Unit XI) terbagi ke dalam 110 wilayah. Beberapa DAS yang paling dominan pada wilayah kelola dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2.8. Luas Wilayah Kelola KPHP Mentawai (Unit XI) Berdasarkan Wilayah DAS Dominan. No. Nama DAS P. Sipora P. Pagai Utara P. Pagai Selatan Grand Total (Ha) 1 Simatobat 15,319.93 15,319.93 2 Taikako 10,203.41 10,203.41 3 Saurenu 7,755.79 7,755.79 4 Baleraksok 7,414.19 7,414.19 5 Sibagau 6,912.94 6,912.94 6 Talopulai 5,421.66 5,421.66 7 Mapoupou 4,942.80 4,942.80 8 Bubuget 4,591.55 4,591.55 9 Saumanganyak 4,086.15 4,086.15 10 Matobe 3,859.38 3,859.38 11 Tumale 3,713.70 3,713.70 12 Sibetumonga 2,879.07 2,879.07 13 Siberimanua 2,499.32 2,499.32 14 Simangannya 2,324.56 2,324.56 15 Manganjo 2,144.31 2,144.31 16 Sigitci 1,991.97 1,991.97 17 Batsagai 1,921.84 1,921.84 18 Sabeugukgung 1,853.47 1,853.47 19 Lakkau 1,767.23 1,767.23 20 Malakopak 1,557.50 1,557.50 Daerah Aliran Sungai (DAS) Simatobat yang berada di Pulau Pagai Selatan merupakan DAS terluas pada wilayah kelola KPHP Mentawai (Unit XI) seluas 15.319,93 Ha, sedangkan pada Pulau Sipora DAS yang dominan adalah DAS Saurenu yaitu seluas 7.755,79 Ha pada wilayah kelola. DAS terluas yang merupaka wilayah kelola di Pulau Pagai Utara adalah DAS Taikako dengan luas 10.203,41 Ha. Berdasarkan peta lahan kritis Dalam Buku Review RTKRHL DAS Sumatera Barat Tahun 2013 yang diterbitkan oleh BPDAS Agam Kuantan, kawasan hutan di wilayah kelola KPHP Mentawai (Unit XI) didominasi oleh Potensial Kritis seluas 111.652,99 Ha (82,90%) yang tersebar di seluruh wilayah kelola KPHP Mentawai (Unit XI) dan Tidak Kritis seluas 19.030,09 Ha (14,12%). Lahan dengan kriteria Potensial Kritis banyak dijumpai di wilayah kelola KPHP Mentawai (Unit XI) pada fungsi kawasan Hutan Produksi sedangkan kriteria Tidak Kritis banyak dijumpai di fungsi kawasan Hutan Produksi di Pulau Pagai Selatan. Sementara Lahan dengan kategori, Kritis dan Sangat Kritis sebagai prioritas penanganan rehabilitasi lahan yang ada diluar areal yang dibebani izin sangat kecil bila dibanding total luas kawasan hutannya yaitu hanya seluas 98,8 Ha dengan rincian yaitu Kritis (31,6 Ha) dan Sangat Kritis (67,2 Ha) yang lokasinya pun terpencar di Pulau-pulau kecil yang umumnya merupakan ladang kelapa dan cengkeh masyarakat . Lahan Kritis dan Sangat Kritis yang berada di dalam areal IUPHHK-HA PT. Minas Pagai Lumber ± hanya seluas 1,1 Ha di Pulau Pagai Utara, namun apabila dimasukan areal agak kritis didalam areal HPH yaitu seluas ± 3.276 Ha (wilayah Pulau Pagai Utara ± 1.291.7 ha dan Pulau Pagai Selatan ± 1.984,3 Ha). Selengkapnya luas lahan kritis di wilayah kelola KPHP Mentawai (Unit XI) dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2.9 Luas Lahan Kritis di Wilayah Kelola KPHP Mentawai (Unit XI) Kawasan Tingkat Kritis Pulau (Ha) Grand Total (Ha) Sipora Pagai Utara Pagai Selatan HL Tidak Kritis 17.40 - - 17.40 Potensial Kritis 644.22 1,805.79 1,289.27 3,739.29 Kritis 2.59 2.59 HP Tidak Kritis 5,859.82 4,592.42 8,560.45 19,012.69 Potensial Kritis 26,290.67 29,880.17 51,742.85 107,913.70 Agak Kritis 679.62 1,272.12 1,952.01 3,903.75 Kritis 18.68 1.11 8.56 28.35 Sangat Kritis 39.65 - 26.45 66.11 Grand Total 32,208.82 34,476.30 60,338.31 134,683.88 Sumber: Buku Review RTK-RHL Sumatera Barat, BPDAS Agam Kuantan (2013)
Sumber : Dokumen RPHJP KPH
No
SK Rehabilitasi
Tanggal SK Rehabilitasi
Luas SK Rehabilitasi
Nama IPPKH
SK IPPKH
Tanggal

Rehab DAS Dalam KPH

Sumber : Direktorat RPP Kementerian KLHK

Lahan Kritis

Izin di Lahan Kritis.
No
Tahun
Sangat Kritis (Ha)
Kritis (Ha)
Potensial Kritis (Ha)
Agak Kritis (Ha)
Non Izin di Lahan Kritis.
No
Tahun
Sangat Kritis (Ha)
Kritis (Ha)
Potensial Kritis (Ha)
Agak Kritis (Ha)
Sumber Lahan Kritis : Direktorat PDAS HL
No
Tahun Pengukuran
Tutupan Lahan
Model 20up (m³ / Ha)
Model 50up (m³ / Ha)

TSP/PSP

Sumber : Direktorat IPSDH kementerian KLHK
No
Butir
PL 2009 (Ha)
PL 2012 (Ha)
PL 2015 (Ha)
PL 2017 (Ha)

Tutupan Lahan

1 Hutan Mangrove Primer 0 0.00 0.00 0.00
2 Hutan Mangrove Sekunder 0 0.00 0.00 0.00
3 Hutan Rawa Primer 0 0.00 0.00 0
4 Hutan Rawa Sekunder 0 0.00 0.00 0.00
5 Hutan Lahan Kering Primer 0 0.00 0.00 0.00
6 Hutan Lahan kering Sekunder 0 0 0 0
7 Hutan Tanaman 0 0.00 0.00 0.00
8 Semak Belukar 0 0.00 0.00 0.00
9 Pertambangan 0 0.00 0.00 0.00
10 Perkebunan 0 0.00 0.00 0.00
11 Pertanian Lahan Kering 0 0.00 0.00 0.00
12 Pertanian Lahan Kering Campur Semak 0 0 0 0
13 Sawah 0 0.00 0.00 0.00
14 Rawa 0 0.00 0.00 0.00
15 Tambak 0 0.00 0.00 0.00
16 Semak Belukar Rawa 0 0 0 0
17 Bandara 0 0 0 0
18 Savana 0 0 0 0
19 Transmigrasi 0 0.00 0.00 0.00
20 Tanah Terbuka 0 0 0 0
21 Pemukiman 0 0 0 0
22 Danau 0 0 0 0
Sumber Penutupan Lahan : Direktorat IPSDH kementerian KLHK
No
Provinsi
Kabupaten
Kriteria
Luas 20 Ha
1 Sumatera Barat Permukiman, fasos dan fasum 1,998.68
2 Sumatera Barat Pertanian lahan kering yang menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat setempat 37,601.80

TORA

Silahkan hover atau klik tombol di sebelah kiri
Klik untuk kembali ke tampilan awal peta! (tindakan ini juga bisa dilakukan dengan tekan tombol Shift + Klik kiri)
Klik untuk mencetak tampilan peta
Mohon sunting satu lapisan dan pilih fitur yang akan di sunting!
Koordinat dalam Derajat Menit Detik
Tambah Koordinatklik tombol di kanan untuk menambah koordinat
KosongkanTambahkan
Peta KPHP UNIT X SUMBAR