PEMANFAATAN

Publikasi Pemanfaatan

SURVEI PENGGUNA

SURVEI PENGGUNA
 

Hitstat

TUSUK SATE DAN PENTOL PENGELOLAAN HHBK BAMBU KPH HULU SUNGAI

 

KPH Hulu Sungai adalah KPH di Kalimantan Selatan yang merupakan penggabungan dari KPH Hulu Sungai Selatan dan KPH Hulu Sungai Tengah pasca UU 23. KPH Hulu Sungai di wilayah kelolanya memiliki potensi bambu yang sangat besar, baik dalam jumlah dan jenisnya, di antaranya  jenis bambu tali, bambu banar, buluh kuning, bambu buluh, bambu haur, bambu tamiyang, bambu kelai, bambu pait, bambu walang, bambu cina, dan bambu betung. Bambu-bambu tersebut selama ini hanya dimanfaatkan sebagai reeng untuk pembuatan pagar atau kandang ayam, dimana satu batang bambu yang telah dibuat reeng dihargai Rp. 10.000,-.

Melihat potensi bambu yang sangat besar dan pemanfaatannya yang masih sangat terbatas tersebut, KPH Hulu Sungai berinisiatif untuk meningkatkan nilai jual dari pemanfaatan sumber daya bambu tersebut. Bambu sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) dapat ditingkatkan nilai jualnya dengan mengubahnya menjadi produk lain yang memiliki nilai tambah misalnya mengolah bambu tersebut menjadi tusuk sate atau pentol seperti yang telah dilakukan oleh KPH Hulu sungai.

Kepala KPH Hulu Sungai beserta jajaran pengelola KPH, penyuluh Kehutanan dan Pengurus KTH Lestari Priangan serta KTH Mandiri pada tanggal 26 Juli 2017 melakukan fasilitasi pemanfaatan bambu menjadi produk tusuk sate dan pentol kepada masyarakat. Inisiasi kegiatan ini dimulai pada kelompok tani dan KTH binaan KPH yang sangat tertarik untuk memproduksi tusuk sate dan pentol tersebut.

Dalam hal memperdalam pengetahuan mengenai teknologi pembuatan tusuk sate dan pentol maka dilakukan studi banding oleh KPH Hulu Sungai dengan harapan semua dapat bersinergi dalam pengembangan industri ini. Berikut adalah peralatan yang dibutuhkan, biaya, harga jual dan nilai tambah yang dihasilkan dalam pemanfaatan bambu menjadi produk berupa tusuk sate dan pentol :

  • Mesin
  1. Pembelah bambu manual
  2. Slicer terdiri dari mesin penipis dan pesin irat
  3. Oven
  4. Mesin penghalus bilah
  5. Mesin peruncing
  6. 6. Circlesaw
  • Proses Pengolahan
  1. Bambu dipotong dengan circlesaw untuk membuang bagian buku
  2. Batang bambu tanpa buku dibelah sesuai mata pisau pembelahan manual
  3. Belahan bambu dimasukan ke mesin slicer di bagian mesin penipis dan hasilnya kemudian dimasukan ke mesin slicer bagian mesin irat. Hasilnya berupa bilah bambu kasar.
  4. Bilahan bambu dioven untuk menurunkan kadar air. Bahan bakar oven dari limbah bambu
  5. Bilahan yang sudah dioven dipotong manual menggunakan gergaji tangan sesuai peruntukannya
  6. Kemudian dimasukan ke mesin penghalus hingga menjadi bilah bambu yang lebih halus dan silinder
  7. Salah satu ujung bilah bambu yang sudah halus diruncingkan di mesin peruncing
  8. Proses terakhir , dipacking dengan berat 200 gram/ bungkus
  • Kisaran Harga Mesin
  1. Circlesaw Rp. 1.000.000 s.d Rp. 2.000.000
  2. Mesin pembelah bambu manual (rakitan sendiri) ± Rp. 200.000
  3. Mesin slicer ± Rp. 25.000.000, variasi mata slicer sepasang Rp. 3.000.000
  4. Oven rakitan sendiri ± Rp. 3.000.000
  5. Mesin penghalus ± 18.000.000
  6. Mesin peruncing Rp. 500.000 – Rp. 700.000 / unit. Diperlukan 2 (dua) unit mesin peruncing untuk peningkatan kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja

 

  • Kisaran Hasil Produksi
    • Produksi sehari bisa mencapai 50 bungkus dengan jam kerja yang tidak maksimal
    • Sebungkus dengan berat 200 gram dengan isi rata-rata :
      • Tusuk sate ± 230 bilah
      • Tusuk pentol ± 250 bilah
  • Sebungkus dijual partai seharga Rp. 3.200 dan eceran seharga Rp. 4.000
  • Satu batang bambu panjang ± 3 meter sebagai bahan baku dibeli dengan harga Rp. 10.000 dan setelah produksi jadi tusuk sate bisa dijual dengan harga Rp. 60.000 dengan keuntungan bersih sekitar Rp. 30.000
  • Saran dan Tindak Lanjut

Mesin - mesin tersebut bisa sebagai sarpras pengolahan HHBK bambu dengan catatan:

untuk menggerakan mesin bisa menggunakan jaringan listrik baru dari PLN (recomended 3500 watt) atau dengan genset 5.000 hp.

 

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar KPH Hulu Sungai dengan menciptakan lapangan kerja dan keterampilan baru bagi masyarakat. Selain itu juga dapat dijadikan referensi bagi KPH lain yang memiliki potensi HHBK bambu.

 


Publikasi KPH