PEMANFAATAN

Publikasi Pemanfaatan

SURVEI PENGGUNA

SURVEI PENGGUNA
 

Hitstat

BUDIDAYA ULAT SUTRA DI KPH YOGYAKARTA

A. PENANAMAN MURBAI

Masyarakat sekitar wilayah hutan Balai KPH Yogyakarta yang telah menanam tanaman murbei untuk pengembangan ulat sutera berada di Desa Mangunan dan  Muntuk  kabupaten Bantul dan Banyusoca Kabupaten Gunung Kidul.Saat ini tanaman murbei yang telah ditanam seluas kurang lebih 2,5 Ha yang berada di Blok Sudimoro II, RPH Mangunan. Dan seluas 7,5 ha di petak 88 RPH Kepek BDH Playen. Pengembangan tanaman murbei dan budidaya ulat sutera diharapkan KPH Yogyakarta dapat meningkatkan kesejahteraan masayarakat dengan turut mengembangkan kebudidayaan melalui kain batik khas Yogyakarta. Penanaman tanaman murbei dan budidaya ulat sutera merupakan upaya yang dilakukan pemerintah agar masyarakat tidak merambah hutan atau melakukan aktifitas illegal logging di dalam kawasan hutan.

Berdasarkan Penetapan Nilai Unggulan HHBK pada Balai KPH Yogyakarta yang dilakukan oleh BPHP Wilayah VII Denpasar menunjukkan bahwa nilai unggulan paling tinggi dari 3 HHBK (kayu putih, jasa lingkungan dan budidaya ulat sutera).Sehingga tanaman murbei adalah HHBK dapat dijadikan komoditas prioritas untuk dikembangkan.Dalam rangka upaya pengembangan HHBK Murbei dan budidaya ulat sutera, Balai KPH Yogyakarta akan melaksanakan penanaman tanaman murbei bersama masyarakat melalui program kemitraan. Penanaman murbei yng akan dilakukan di tahun 2018 ini akan dilakukan di RPH Kepek dan RPH Dlingo dengan luas total sebanyak 5 ha.

Tahap persiapan kegiatan meliputi :

-      Menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan serta teknis pelaksanaan penanaman.

-      Melakukan koordinasi dengan petugas teknis lapangan setempat, dalam hal ini adalah Sinder, Mantri dan Mandor BDH Playen dan Kulonprogo-Bantul terutama RPH Kepek dan RPH Dlingo mengenai lokasi penanaman dan KTH yang nanti akan bermitra pada saat penanaman.

-      Melakukan pemetaan terhadap calon lokasi penanaman tanaman Murbei.

-      Membuat desain pola tanam.

-      Melakukan koordinasi dengan KTH yang nantinya akan bermitra dalam penanaman murbei. Menjelaskan secara singkat mengenai teknis pelaksanaan kegiatan penanaman tanaman murbei.

-      Melakukan koordinasi terkait penyedia jasa pengadaan yang akan dilaksanakan melalui metode pengadaan langsung. Nantinya akan ada dua penyedia, yaitu penyedia stek murbei dan pupuk kandang. Stek Murbei sebanyak 55.000 batang dengan asumsi 5 ha penanaman dengan jarak tanam 1 x 1 m, yaitu sebanyak 50.000 stek ditambah dengan kemungkinan kematian sebanyak 10% dari jumlah stek yang dibutuhkan yaitu 10% x 50.000 = 5.000 stek. Sehingga jumlah stek yang dibutuhkan adalah sebanyak 55.000 stek dengan spesifikasi teknis yang nantinya akan dikemukakan dalam TOR penanaman murbei. Jenis murbei yang digunakan pada penanaman kali ini adalah dari jenis Morus alba dan Morus cathayana karena kedua jenis murbei ini merupakan tanaman murbei yang tahan kemarau dan tahan terhadap hama dan penyakit. Untuk pupuk kandang yang dibutuhkan terbagi kedalam dua kategori, yaitu pupuk kandang yang digunakan untuk penanaman murbei 2018 dan pemeliharaan tanaman murbei tahun tanam 2017.

B. ULAT SUTERA

Budidaya ulat sutera ini nantinya akan difokuskan pada produksi benang sutera dan sebagai salah satu dari rangkaian pengembangan Wisata Budaya Mataram yang ada di RPH Mangunan. Diharapkan dengan adanya budidaya ulat sutera ini mampu menaikkan minat pengunjung terhadap jasa lingkungan yang ditawarkan oleh Balai KPH Yogyakarta.

Mengawali kegiatan budidaya ulat sutera, pada tahun anggaran 2017 telah dikembangkan penanaman tanaman Murbei seluas 10 ha sebagai pakan ulat sutera dan fasilitasi rak budidaya ulat sutera sebanyak dua rak yang pada saat ini berada di RPH Mangunan dan RPH Kepek.

Ulat sutra yang dikembangkan di KPH Yogyakarta di lakukan di Kelompok tani hutan Sumber Wanajati ( petak 88 RPH Kepek BDH Playen ) menyebar telur sebanyak 1 Box ( 25.000 telur ulat sutra ) dan Kelompok Tani Margosutro juga menyebar telur ulat sutra sebanyak 1 box ( 25.000 telur ulat sutra ) (Blok Sudimoro II, RPH Mangunan ). Telur ulat sutra yang di kembangkan oleh KPH Yoyakarta berasal dari Perhutani Kabupaten Soppeng,Sulawesi Selatan.

Siklus perkembangan ulat sutra dari penyebaran sampai ke masa panen kokon yang dilakukan oleh KTH Sumber Wanajati dan KTH Margosutro selama 25 hari

Hasil panen kokon setelah 25 hari proses perkembangan di masing-masing KTH adalah sebagai berikut :

KTH Sumber Wanajati                  : 16 Kg

KTH Margosutro                           : 19 Kg

Setelah di panen proses selanjutnya kokon tersebut di open untuk proses mematikan kuva selama 1 jam pada suhu 80 derajat yang di lakukan pada Lab kampus Institut Pertanian Yogyakart

 


Publikasi KPH